Bahagia Tanpa Syarat

laut biru
Sebuah artikel menarik tentang BAHAGIA. Apa itu bahagia? bagaimana cara mencapainya? Semoga kita bisa mengambil hikmah dari artikel ini.

Kita hidup di masyarakat yang menyebarkan mitos “Saya akan bahagia jika …..”. Misalnya : Saya akan bahagia jika punya rumah, mobil, pasangan yang baik dan seterusnya. Artinya kita telah dikondisikan bahwa bahagia itu hanya bisa dicapai jika memenuhi persyaratan (eksternal) tertentu.

Berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam, rasakan udara yang masuk dan ke luar paru-paru anda, dan lakukan lah beberapa kali. Bagaimana rasanya ? Kita tak perlu punya status atau jabatan tertentu, bekerja keras atau tidak, tak perlu kualifikasi tertentu untuk merasakan nikmatnya bernafas. Anda sepenuhnya berhak, tanpa syarat apapun.

Apa yang akan terjadi ketika anda tiba-tiba menyadari bahwa bahagia sebenarnya adalah hak lahir anda ? Apa yang terjadi jika anda bisa merasakan bahagia yang TERBEBAS dari kondisi eksternal hidup anda?

Mengapa Memilih ‘Bahagia Tanpa Syarat’? Pertanyaan di atas mungkin terdengar aneh – mungkin anda merasa bahwa jawabannya sudah jelas, tapi saya akan tetap berikan jawabannya. Berikut alasan-alasan mengapa memilih bahagia sekarang juga :

- Anda akan merasa senang, gembira, positif – sungguh sangat menyenangkan (mungkin ini jawaban anda juga)

- Anda akan lebih banyak mengisi waktu di masa sekarang daripada menyesali masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan

- Arah dan tujuan hidup akan semakin jelas seiring berjalannya waktu – mereka tidak datang via telegram tapi akan muncul dengan sendirinya ketika anda mulai rileks dan bisa pasrah.

- Anda mendadak bisa mengerti apa yang telah dicapai dalam hidup dan mengapa. Kemudian dengan perubahan sederhana, anda bisa memulai hidup yang sesuai dengan yang anda inginkan

- Anda akan meninggalkan kekhawatiran dan mulai menikmati hidup. Mungkin anda akan berfikir tentang masa depan dengan penuh kegembiraan, antusiasme, kesenangan seperti yang anda nikmati di masa kini

- Anda akan sering merasakan ‘sukses’ yang anda cari selama ini. Orang-orang yang gembira & positif akan ‘menarik’ hal-hal, situasi dan pengalaman yang akan memberikan mereka kesenangan lebih lanjut, termasuk materi.

- Anda hidup tanpa kepura-puraan, dan memulai hidup yang sesungguhnya.

10 Unsur Bahagia Tanpa Syarat

1.Apa Yang Engkau Fokuskan Akan Meningkat

Pengalaman hidup dapat diterjemahkan sebagai ‘proyeksi dari apa yang terjadi di luar tubuh (eksternal) yang diubah menjadi sensasi pada pikiran dan perasaan’.

Fokus, adalah titik utama dimana kita mengarahkan pikiran dan perasaan.. Artinya, di titik mana kita arahkan pikiran & perasaan kita, disanalah sensasi yang diterima tubuh meningkat. Jika kita fokus pada hal negatif, maka pengalaman yang diterima pikiran dan perasaan kita lebih didominasi oleh hal2 yang negatif. Akibatnya hidup terasa berat. Demikian pula sebaliknya.

Kalau saat ini anda belum tahu/menyadari dimana fokus anda, perhatikan saja pendapat anda sendiri tentang kualitas hidup anda. Apapun yang anda rasakan saat ini tentang hidup anda, menunjukkan dimana selama ini anda berfokus.

Ubah fokus anda jika perlu, dan pilihlah fokus yang akan mendatangkan apa yang anda inginkan. Perhatikan selalu fokus anda, karena mungkin saja anda kembali ke fokus yang lama.

2.Rasa Syukur Adalah Pendorong Utama

Rasa syukur adalah pendorong utama kebahagiaan. Jika engkau menginginkan lebih, maka bersyukurlah akan apa yang sudah engkau miliki. Bersyukur akan menjaga agar energi anda tetap terfokus pada hal-hal yang sebenarnya anda inginkan.

Jika anda kecewa, tidak puas, maka disadari atau tidak, maka anda akan terfokus pada hal-hal yang mendatangkan kecewa. Anda segera bisa menghitung betapa seringnya rasa kecewa anda alami. Jika ini membuat anda tidak nyaman, segeralah bersyukur !

3.Manusia Menyukai Kebiasaan

Psikolog ternama, Virginia Satir, pernah berkata bahwa daya yang paling kuat dari manusia adalah mempertahankan kebiasaan. Kita punya kecenderungan alami untuk menolak perubahan, terutama yang radikal.

Jika suhu tubuh tiba-tiba turun 20 derajat, atau keasaman darah turun beberapa PH, kita akan mati seketika. Tubuh dan otak kita mempunyai kontrol untuk menjaga keseimbangan yang disebut ‘homeostasis’.

Ketika kita mengalamai perubahan, maka sensor-sensor ‘kebiasaan’ di jaringan syaraf kita akan memperingatkan otak dan sistem tubuh akan mengambil tindakan untuk mengembalikannya ke kondisi stabil. Ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang berusaha berubah tetapi kembali lagi ke kebiasaan lamanya.

Jadi, ketika anda bertekad untuk berubah, maka biasanya di fase awal berlangsung lancar, sampai suatu saat – karena reaksi di atas – ada penolakan, baik dari tubuh maupun pikiran. Ini harus disadari & diterima sebagai bagian perubahan. Setelah itu, ketika kesetimbangan baru telah tercapai, maka anda akan merasakan ‘point of no return’ bahwa munculnya pikiran, perasaan, rasa tidak nyaman yang menolak perubahan tidak lagi mengganggu anda. Itu berarti anda telah berhasil.

4.What The Thinker Thinks, The Prover Proves

Menurut Robert Anton dalam buku “Promotheus Rising”, akal sebenarnya mempunyai 2 bagian; thinker/pemikir dan prover/pembukti.

Thinker sangat fleksibel, bisa berpikir bumi itu bulat atau rata, pria itu rasional dan wanita itu intuitif atau sebaliknya, ia bisa berpikir dunia ini sempit atau luas, dunia ini penuh penderitaan atau kebahagiaan, dan seterusnya.

Prover perilakunya sangat sederhana : apa yang dipikirkan ‘thinker’ maka ia akan membuktikannya. Ia akan memilih/mencari data-data di dalam otak anda untuk mendukung pernyataan ‘thinker’. Jika kita berpikir bahwa tunawisma adalah orang yang malas, maka ‘prover’ akan mencari bukti-bukti yang mendukung ide tersebut.

Jika kita menganggap diri kita bodoh, maka prover akan menyediakan bukti bahwa klaim tersebut ‘benar’ dan menolak bukti yang mengatakan sebaliknya, demikian pula jika kita menganggap diri kita ini brilyan. What the thinker thinks the prover proves.

Mudah sekali melihat hal ini pada orang lain, misal : “si Anu itu kok PD amat ? Padahal dia itu bla…bla…bla…” (sekarang anda bisa memahami mengapa si Anu demikian – karena the prover dalam dirinya memberikan bukti yang mendukung) tetapi ternyata sulit untuk menyadari hal yang sama pada diri sendiri, karena anda – begitu juga saya – percaya bahwa memang hal tersebut ‘sungguh-sungguh benar dan faktual’. Padahal, mungkin itu hanya ‘limiting belief’ (kepercayaan yang membatasi).

5.Penerimaan Adalah Pelumas Perubahan & Perkembangan

Menerima sebuah situasi tidaklah sama dengan menyukai situasi tsb, menyenanginya, atau nyaman berada disana..

Penerimaan berarti bahwa kita mengenali realita dari situasi tersebut. Penerimaan biasanya diterapkan pada orang-orang (termasuk anda), perasaan, sesuatu hal, situasi, problem, hasil yang diinginkan, atau apapun yang menyebabkan penderitaan, kegelisahan ataupan ketidaknyamanan.

Anda bisa memilih, untuk menerima bahwa segala sesuatunya telah sempurna, tetapi itu bukan berarti bahwa tidak ada hal yang bisa diperbaiki, diubah atau ditingkatkan. Penerimaan hanya berarti bahwa pada saat ini, di tempat ini, segalanya sesuatunya memang demikian adanya. Realitanya memang seperti itu.

Banyak orang menggunakan pemikiran positif untuk mengingkari realitas situasinya saat ini. Ini justru membuat keadaan makin buruk. Penerimaan adalah lawan dari penolakan/pengingkaran.

Berbeda dengan pengingkaran, dengan menerima kondisi apa adanya, anda berada di posisi yang paling baik untuk membuat perubahan.

6.Yang Diinginkan Adalah ‘Rasa’

Orang-orang sebenarnya menginginkan ‘rasa’, dan mereka sesungguhnya telah memiliki ‘rasa’ tersebut. Manusia berpikir bahwa mereka menginginkan banyak hal atau pengalaman, tetapi sebenarnya yang diinginkan adalah ‘rasa’ yang diperoleh jika berhasil mendapatkan hal-hal tersebut. Dan kenyataannya, ‘rasa’ tersebut ada di dalam diri dan bukan hasil dari suatu keadaan eksternal.

Jangan salah paham, menjadi kaya, berlibur, hubungan yang harmonis, makan siang yang lezat adalah hal-hal yang menyenangkan, hanya saja, dengan pemahaman di atas, kita menyadari bahwa pengalaman eksternal tersebut tidak menjamin anda merasa bahagia, damai dan berpuas diri. ‘Rasa’ itu TIDAK bergantung pada hal-hal eksternal di atas.

Ironisnya, semakin sering kita menggunakan ‘rasa’ tersebut, semakin cepat dan semakin mudah hal-hal di atas muncul dalam hidup kita. Jadi, biasakanlah (ingat no 3) dirimu dengan ‘rasa’ itu dan engkau akan segera berada dalam situasi yang engkau inginkan.

7.Bersedialah Menerima

Bahagia adalah hak lahirmu, jadi bersedialah untuk menerimanya.

Banyak sekali orang-orang yang berusaha keras untuk mendapatkan keinginannya, tetapi tampak jelas bahwa mereka tidak bersedia menerimanya. Dari hal-hal yang tangible (uang, hubungan, kekayaan) sampai intangible (kesenangan, ketenangan pikiran, pencapaian diri), kita tak akan mengalaminya sampai kita bersedia menerimanya.

Seandainya ada yang ingin memberikan uang 1 juta kepada anda, maukah anda menerimanya? Kemungkinan besar, anda akan bertanya dulu “apa syaratnya?”.

Salah satu hal yang tidak mau diterima oleh manusia adalah : kebahagiaan. Mereka menghabiskan waktu mengejarnya, tetapi melakukan apapun untuk menghindarinya di menit-menit terakhir. Kedengarannya konyol, tetapi saya membuktikan hal tersebut di diri saya sendiri. Jadi saya berkata pada diri sendiri “Saya memutuskan bahwa saya bersedia untuk berbahagia saat ini”.

Katakanlah “Saya memutuskan bahwa saya bersedia berbahagia saat ini” dan terimalah (tips no 5) semua pikiran & perasaan yang muncul. Lakukan setiap hari sampai engkau terbiasa dan tak merasa perlu melakukannya lagi (tips no 3)

8.Gunakan Affirmasi Penuh Kekuatan

Bahasa merupakan sarana utama untuk memfokuskan pikiran seseorang. Oleh karena itu, pemilihan kata-kata yang tepat dalam Affirmasi menjadi penting untuk mendapatkan fokus yang jelas. Contohnya : “Saya menyukai mobil” . Subyeknya ada (saya), obyeknya pun ada (mobil).

Tetapi bagaimana dengan kalimat ini : “Apa yang saya inginkan ?” Subyek ada (saya), obyek tak ada (apa). Affirmasi yang dibangun berdasarkan pertanyaan di atas harus memiliki obyek yang jelas agar affirmasi tersebut mempunyai makna yang bisa dibuktikan (tips no 4 : What the thinker thinks the prover proves)

Jadi kalau affirmasi berdasarkan pertanyaan ‘apa yang anda inginkan ?’ di atas, misalnya : saya ingin bahagia, saya mencoba mengurangi berat badan, saya mencari jawaban dst, maka karena obyeknya tidak jelas, pengalaman yang didapat adalah ‘ingin’, ‘mencoba’ dan ‘mencari’. Jika pengalaman ini yang muncul, apa yang anda rasakan ?

Untuk mensiasati ini, bisa dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang tepat (reframing). Misalnya, affirmasi ‘saya ingin kaya’ dapat diubah menjadi ‘saya bersyukur semakin kaya’. ‘Saya mencoba menurunkan berat badan’ diubah menjadi ‘saya berhasil mengurangi berat badan saya’ dan seterusnya.

Pengalaman yang didapat adalah ‘bersyukur’, berhasil, dan ‘semakin kaya’ serta ‘ ‘mengurangi berat badan saya’ dapat diterima sebagai suatu progress/kemajuan. Dengan pengalaman seperti ini, apa yang anda rasakan sekarang ?

9.Semuanya Baik-Baik Saja, Tak Ada Yang Perlu Ditakutkan

Ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan hanya akan datang jika seseorang membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan di masa lalu atau di masa datang. Ketika kita mengijinkan diri kita untuk memikirkan hanya saat ini saja, maka kita akan menyadari bahwa semuanya baik-baik saja dan tak ada yang perlu ditakutkan.

Rasa takut berguna untuk mengingatkan kita kepada hal-hal yang mungkin saja bisa membahayakan diri kita. Tetapi ketika dikombinasikan dengan kemampuan manusia untuk membayangkan masa lalu dan masa depan, ia akan menciptakan problem (misal stress & kecemasan).

Berhentilah sesaat. Fokuskan perhatian anda pada napas anda dan ijinkan diri anda untuk mengamati pikiran dan perasaan yang mengalir melalui kesadaran anda. Ingatlah, pikiran dan perasaan ini BUKANLAH anda, mereka adalah proses yang timbul dalam pengalaman anda. Perasaan apapun yang anda rasakan terhadap apa yang anda pikirkan (masa depan atau masa lalu) adalah perasaan TENTANG pikiran, bukan terhadap realitas saat ini.

10.Anda Sudah Ada Disini!

Anda sudah berada disini. Tempat dimana anda akhirnya berhasil berubah, mencapai tujuan, menyelesaikan perjalanan. Sebenarnya, anda tak pernah beranjak. Hal yang menghalangi anda untuk mendapatkan pengalaman atas realitas saat ini dan di tempat ini adalah gagasan bahwa anda perlu berada di tempat lain untuk mendapatkannya.

Hal yang menghalangi anda untuk merasakan ketenangan dan kepuasan saat ini adalah gagasan bahwa ketenangan dan kepuasan ada di tempat lain, di ssuatu saat nanti, di pengalaman yang berbeda, di kesempatan yang akan datang.

Nyatanya, anda disini, dan terus disini. Ketika anda berada disana maka, segera disana itu berubah menjadi disini karena anda akan mempunyai gagasan tentang adanya ‘disana-disana’ yang lain. Jadi berhentilah bergulat dengan kenyataan, sadarilah dan rasakan kenyamanan dari kesadaran anda bahwa anda selalu berada disini dan itu adalah saat dan tempat yang tepat.

Berhentilah mencari. Kedamaian, cinta, kepuasan ada di dalam diri anda sendiri. Ketika anda berhenti dari kesibukan mencari hal-hal tersebut di tempat lain, ketika anda menyerah dan pasrah, justru anda akan mulai mendapatkan pengalaman tersebut.

Ketika anda mencari kedamaian, maka anda berasumsi bahwa anda tidak memilikinya. What the thinker thinks the prover proves, sehingga pikiran anda akan memfilter sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa anda tidak memilikinya. Semakin anda mencari, semakin jelas dalam pikiran anda bahwa tidak memilikinya atau bahkan berpikir tidak layak mendapatkannya. Akhirnya menjadi pencarian tiada akhir, atau akhirnya anda putus asa.dan memutuskan bahwa kedamaian (atau apapun itu) tidak ada. Bukan untuk anda.

Kesimpulan

Jika kita membiasakan diri memfokuskan pikiran kita pada ‘rasa’ yang ingin kita dapatkan, maka segera kita berada di jalur yang tepat menuju ‘bahagia tanpa syarat’. Itu karena segera ‘the prover ‘dalam diri kita akan memberikan bukti-bukti yang mendukung.

Gunakan affirmasi yang tepat disertai kesadaran bahwa bahagia adalah hak lahir anda dan bahwa anda memutuskan untuk menerimanya. Terimalah realita situasi anda saat ini. Tak ada yang perlu diingkari Pengingkaran hanya membuat anda tidak mengenali situasi anda sendiri dengan jernih.

Tak perlu mencari kemanapun karena anda sudah berada di tempat yang tepat dan saat yang tepat.Dan tak ada yang perlu ditakutkan karena masa lalu sudah lewat dan masa depan belum datang.

Fokuskan ‘rasa’ itu disini, di saat ini, bersedialah menerima pengalaman yang muncul dan bersyukurlah. Karena bahagia akan segera timbul dari dalam diri anda – tanpa tergantung faktor luar.

Sumber: Milis, Penulis: unknown (kalau ada yang tahu mohon infonya)

Baca juga:
3 Kunci Hidup Bahagia
Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s